Moana (2026)

Keluarga, Fantasi, Komedi, Petualangan
Sutradara: Thomas Kail
Pemeran: Catherine Lagaʻaia, Dwayne Johnson, Rena Owen, John Tui, Frankie Adams, Jemaine Clement, Emma Puahi-Shapazian, Amaya Masoli
Ulasan
Premis Moana masih berkutat di ranah petualangan gadis muda dari desa pesisir yang menantang batas tradisi dan lautan, kali ini dihidupkan ulang dalam format live-action. Dari awal, memang ada pesona tersendiri setiap kali Disney membawa dongeng lamanya dengan rasa baru, terutama yang bertahun-tahun jadi favorit keluarga seperti Moana. Namun, terus terang saja, gagasan mengulang kisah yang bahkan belum genap satu dekade terasa setengah matang dan terlalu terpaku nostalgia, membuat harapan akan sesuatu yang segar langsung turun drastis. Set di alam Polinesia yang visualnya sejak versi animasi memang sudah kaya warna, Moana versi baru justru malah seringkali kehilangan daya magis itu. Laut, gunung, ombak, dan selingan budaya lokal terkesan sedikit datar, mungkin efek CGI yang agak sering terasa nanggung. Upaya membingkai kekuatan perempuan muda tetap terasa, terutama lewat karakter Moana—tapi tanpa permainan ekspresi animasi dan energi imaji aslinya, efek inspiratif yang tadinya membara kini terdengar normatif saja. Catherine Lagaʻaia sebagai Moana tampak berusaha keras membawa semangat karakter, tapi karismanya tidak langsung menyala seperti Auli'i Cravalho di edisi animasi. Ada sisi pemberontakan remaja, ada keingintahuan besar, tapi tidak pernah benar-benar sampai menggugah. Kehadiran Dwayne Johnson sebagai Maui jelas jadi magnet tersendiri, walau suara dan gesturnya sekarang lebih "dewasa" dan kurang liar jika dibandingkan versi animasi. Humor yang diharapkan mengocok perut ternyata kadang terasa dipaksakan, sering mengandalkan referensi lama atau slapstick yang kurang nancap. Begitu juga dengan interaksi karakter lain, hanya sekadarnya menopang cerita agar tidak terlalu kosong, tapi tidak cukup kuat mewarnai perjalanan Moana. Musik masih menjadi bagian penting, namun penggarapan orkestrasi dan vokal kali ini tidak sesolid dan sememorable dulu—terutama saat lagu-lagu wajib dipanggil ulang tanpa polesan baru yang berarti. Ada kelebihan yang patut dicatat, setidaknya film ini tetap membawa keragaman etnis ke layar lebar Hollywood saat topik representasi masih sering jadi omongan. Anak-anak usia dini mungkin tetap terhibur melihat petualangan, aksi-aksi laut, dan parade visual, namun bagi penonton yang sudah terbiasa dengan dunia animasi orisinal Disney, Moana live-action terasa seperti perahu mahal yang berlayar di arus ide yang sama, tanpa sempat benar-benar menembus lautan baru. Endingnya pun tidak membawa gebrakan signifikan, sehingga kesan "sudah pernah lihat" kental sejak awal hingga selesai. Akhir kata, adaptasi Moana 2026 adalah tontonan keluarga yang cukup aman, tapi absen dari keberanian yang dulu membuat versi animasinya begitu berarti dan dicintai. Ada sensasi nostalgia, ada sedikit efek kagum, namun keduanya kurang menyatu secara alami. Ini salah satu ulang tahun Disney yang terasa seperti makan kue ulang tahun kemarin—masih enak untuk anak-anak, tapi penonton dewasa mungkin ingin sesuatu yang lebih berani dan segar.




